Labels

Saturday, 9 September 2017

Ada yang salah dengan sopan santun versi Indonesia?

"Sekolah wajib terapkan penguatan pendidikan karakter" begitulah judul berita yang dimuat oleh salah satu kantor berita dalam negeri antaranews.com. Pertanyaannya untuk kita bersama sekarang, pendidikan karakter yang seperti apa?

Masih ingat ketika anda masih duduk dibangku SD dulu? Atau mungkin ada salah satu dari anda masih duduk di bangku SD nyasar ke tulisan ngawur ini. Sejak dari SD kita sudah ditanamkan nilai sopan santun, yang arti dari sopan santun itu sendiri sepertinya sudah kabur di otak saya ini.

Entah ini mau diberi judul sopan santun ala Jawa dengan teori hegemonisasi di Indonesianya, atau ada yang beri label sopan santun ala ketimuran (entah timur yang mana?), atau ini sopan santun ala negara bekas kolonialisme beratusan tahun? Wacana sopan santun ini tidak akan dikulik dari segi dialektisnya.

Di Indonesia, mengajarkan sopan santun sejak dini menjadi hal yang paling penting dalam fase tumbuh kembang dan pembelajaran anak. Prioritas ini dikalangan orang tua dapat dipahami karena orang tua sang anak juga dididik dan dibesarkan dengan cara itu. Mencium tangan orang yang lebih tua adalah salah satu contohnya. Saya menilai tidak ada yang salah dengan itu.

Namun, sampai pada derajat tertentu nilai sopan santun di Indonesia punya potensi besar untuk menumpulkan daya berpikir kritis anak. Kenapa demikian? Sejarah tentu banyak berperan terhadap bagaimana kita bertindak dan menentukan aksi kita di masa yang mendatang.

Banyak orang tua di Indonesia mendambakan anak yang penurut. Tapi kenapa tidak pernah mendambakan anak yang kritis? Hal ini kelihatannya mustahil, karena yang kritis itu dianggap sebagai pembangkang yang harus direpresi. Kerapkali orang tua menyuruh sang anak untuk melakukan sesuatu atau bahkan melarangnya untuk melakukan suatu hal tanpa merasa perlu menjelaskan kenapa "harus dilakukan" atau "dilarang", karena orang tua memakai kacamata pintar orang dewasa and take it for granted that it is obvious bahwa suatu hal harus anaknya lakukan atau tidak boleh lakukan.

Contoh: "Taruh mainanmu ke tempatnya, jangan taruh ini sembarangan di lantai"

Ekspektasi orang tua di Indonesia adalah anak yang penurut dan selalu menuruti apa yang diperintah oleh mereka. Dan jika anak itu bertanya "kenapa?". Ini bisa masuk kategori anak yang kurang "dididik". Atau misalnya mempertanyakan apa yang disuruh orang tua, bagi banyak orang tua batak (seperti Mama saya sendiri), adalah suatu tindakan yang melawan orang tua dan tidak bisa diterima.

Orang tua yang tidak bisa menerima pertanyaan dari anaknya kenapa dia harus melakukan sesuatu atau dilarang untuk melakukan sesuatu, adalah orang tua yang bergaya tidak lain seperti Tuhan. Anak dilihat sebagai objek kepemilikannya dan absolutisme apa yang orang tua katakan adalah benar harus ditaati sang anak.

Bayangkan ratusan tahun negara ini terbiasa harus melakukan sesuatu dan dilarang melakukan sesuatu oleh negara penjajahnya, bertanya adalah sebuah perlawanan. Ibaratnya relasi seperti ini seperti sudah mendarah daging.

Pola ekspektasi sopan santun seperti demikian tidak hanya berlaku pada hubungan anak-orang tua saja, begitu pula di sekolah antara guru-siswa, dosen-mahasiswa. Jika nilai sopan santun yang demikian yang dipegang teguh dikalangan civitas akademis, hal ini tentu bisa mengancam tumpulnya perkembangan ilmu pengetahuan.
Apakah jabat tangan seperti ini tidak sopan?
Dianggap sebagai nilai kebaratan?

Tidak penting apakah pembaca menganggap tulisan ini condong ke nilai barat, tapi yang penting adalah kita harus memformulasikan kembali nilai sopan santun seperti apa yang kita inginkan untuk anak, cucu kita ke depan. Apakah anak yang selalu menuruti segala perkataan orang tuanya tanpa pernah berani atau belajar untuk memahami mengapa dia harus melakukan atau tidak melakukan suatu hal?

Nilai sopan santun yang selama ini dianggap penting sebagai suatu kondisi dimana anak atau siswa selalu menuruti apa kata orang yang lebih tua, hal ini justru bisa menjadi boomerang tersendiri bagi lahirnya generasi muda yang dibesarkan tanpa ruang untuk bertanya dan diberi penjelasan: generasi fanatik.



No comments:

Post a Comment