Labels

Tuesday, 26 August 2014

Mereka yang Tersingkirkan






Dibalik megahnya kota metropolitan, gedung-gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, sekolah-sekolah internasional, dan segala kemudahan akses di kota, terdapat banyak masyarakat marginal di tengah kota. Marjinal sendiri berasal dari bahasa Inggris ‘marginal’ yang berati jumlah dan pengaruhnya sangat kecil. Kata marjinal juga identik dengan masyarakat kecil kelompok pra-sejahtera. Kelompok masyarakat ini tersisih atau terabaikan dari segala perbangunan dan perkembangan kota sehingga tidak dapat menikmati segala keistimewaan kehidupan kota. Beberapa kriteria atau indikator kaum marjinal, seperti: pengemis, petani, pemulung, buruh (outsourcing), orang-orang yang berpendapatan pas-pasan bahkan kekurangan.
Walaupun identik dengan penderitaan, masyarakat marjinal juga identik dengan kerja keras. Bahkan anak-anak kecil sekalipun, mereka selayaknya bukan dibebani dengan pekerjaan keras melainkan pengembangan diri dan kreativitas. Namun, kenyataan berkata lain terhadap mereka. Kami melakukan observasi terhadap anak jalanan penjual tissue, tidak jauh dari kampus pusat UI, di jalan Margonda Raya lebih tepatnya di area jembatan penyebrangan Margo City Mall-Depok Town Square.
Ditengah teriknya matahari, anak-anak penjual tissue ini sudah siap untuk berjualan tissue. Dari beberapa anak yang kami wawancarai mengakui bahwa pagi hari mereka pergi bersekolah di sekolah gratis Master (Masjid Terminal). Sekolah gratis tersebut merupakan contoh kepedulian dari anak bangsa akan kaum marjinal, buruh anak, yang diimplementasikan dalam bentuk pendirian sekolah untuk membekali anak-anak jalanan di area terminal dengan pendidikan. Dari seluruh anak-anak penjual tissue yang kami wawancarai mengakui bahwa mereka tinggal di Terminal Depok. “Saya engga sekolah ka, bajunya saya, dipinjam teman” ujar Ocang, salah satu anak penjual tissue kepada kami. Antusias para anak jalanan ini untuk belajar pun ternyata belum begitu tinggi bahkan pada saat kesempatan untuk mendapatkan pendidikan sudah di depan mata. Mereka menganggap bahwa mimpi akan masa depan yang cerah itu hanya hak orang ‘berada’. Begitu berakar masalah kemiskinan hingga membuat seseorang tidak bisa lagi melihat segala potensi yang ada dalam dirinya. Mereka ditempa oleh kenyataan hidup untuk bekerja keras, menghasilkan uang (untuk hidup hari ini) adalah satu-satunya prioritas.

Ditengah observasi tersebut, saya mengamati keadaan para anak jalanan tersebut, menyadari betapa malangnya mereka dan pada waktu yang bersamaan saya sangat bersyukur dengan keadaan saya. Walaupun sangat iba hati saya melihat kondisi para anak jalanan tersebut dan tahu bahwa mereka menjual tissue karena terpaksa, saya percaya bahwa aksi memberikan ‘receh’ lebih yang kita punya kepada anak-anak ini tidak akan menyelesaikan masalah. Memberikan sedikit uang  dengan maksud baik kepada anak-anak ini pun akan dapat menciptakan masalah baru; hal ini akan menciptakan rasa ‘legowo’ atau menerima nasib dan merasa PUAS dengan keadaan mereka, hal ini juga dapat menarik lebih banyak lagi anak-anak penjual tissue dengan harapan di pusat kota mereka dapat mendapat menjual tissue mereka atau bahkan dengan cuma-cuma mendapatkan uang. Saya percaya memberikan sedikit uang kepada anak-anak jalanan ini bukan jawaban untuk menolong mereka.
Bisa kita bayangkan betapa malangnya nasib para anak jalanan ini? Sedari kecil, bahkan pada saat mereka menyusui, mereka sudah hidup dijalanan. Setiap hari yang mereka lihat hanya jalanan, hiruk-pikuk terminal, mereka bahkan tertidur dipangkuan ibunya yang mengemis di jalanan atau jembatan. Mereka tidak pernah diberikan kesempatan untuk melihat potensi diri mereka. Kami tidak bisa salahkan Ocang yang tidak begitu memiliki antusias yang besar untuk bersekolah. Ingin salahkan orang tuanya pun tidak bisa. Fenomena ini merupakan tali berantai yang saling berkaitan. Orang tua mereka pun sama, mereka berasal dari keluarga miskin yang tidak pernah sekalipun berpikir untuk pernah keluar dari keterpurukan mereka. Dengan kata lain, memberikan receh bukan menjadi penyelesaian tetapi justru membuat keterpurukan tersebut berlangsung secara permanen.
“Kami mengarahkan mereka supaya tidak berjualan di depan Mall dan menggangu jalan, tapi mengusir mereka supaya mereka tidak berjualan sama sekali, kami tidak punya hak”, begitu ucap salah satu petugas keamanan jalan (dari Margo City Mall) yang kami wawancarai. Ternyata upaya pengarahan pun belum bisa dilakukan. Pemerintah dalam hal ini harus membuat langkah kebijakan sebagai solusi dan peraturan yang tegas. Karena banyaknya anak-anak jalanan maupun pengemis mengurangi keindahan kota. Namun, mengusir mereka juga bukan merupakan solusi.
Dimana, saat di negara ini berlaku sistem yang hanya pro pada pengusaha kaya dan para penguasa. Kita tidak bisa hanya berpangku manis dan saling menyalahkan karena bagaimanapun mereka adalah bagian dari kita. Kita generasi muda beruntung yang memiliki kesempatan menjadi kaum intelektual. Kitalah yang diharapkan dapat menciptakan terobosan perubahan dan perbaikan bagi lingkungan masyarakat sekitar kita. 


Observasi PSAK FISIP UI 2014 - KELOMPOK 65